This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 24 April 2012

25 Indonesian Gay Celebrity



Welcome to gaylert edition.





Sabtu, 21 April 2012

‘Porn-song’ criticism of her music not what Jupe likes best

Indra Harsaputra, The Jakarta Post, Surabaya | Wed, 04/04/2012 10:19 AM






In the wake of criticism that suggests her songs carry an element of pornography, actress and singer Julia “Jupe” Perez has come out to defend them as purely artistic.

She said she has never intended to spoil the morality of the nation in her work as has been suggested, saying that all of the songs that she performs were part of freedom of expression and protected by the law.

“I’ve heard that I was applauded as an envoy for the durian fruit just because of the ‘Belah Duren’ song. This indicates that my songs are not frowned upon by some people,” Julia told The Jakarta Post by phone.

“Belah Duren”, which literally means “Prying the Durian”, is one of two Jupe songs considered as containing obscenity by the Indonesian Broadcasting Commission (KPI), which said they were not worth playing for public consumption, particularly to under-aged listeners. 

The other is “Jupe Paling Suka” (What Jupe Likes Best).

Also on the blacklist are “Cinta Satu Malam” (One Night Love) by Melinda, “Pengen Dibolongi” (Want to Be Penetrated) by Aan Annisha and “Mobil Bergoyang” (Rocking Car) by Lia MJ.

The KPI has issued a warning to private television stations from airing “Jupe Paling Suka”, in particular, saying doing so would violate the broadcasting law.

East Java KPI member Donny Maulana Arif said airing the song breached Law No. 32/2002 on broadcasting, especially Article 36 that stipulated that program contents must not highlight vulgarity or ignore religious values and the dignity of Indonesians.

“The KPI has no authority to ban TV programs. So we only give sanctions in the form of warnings so a TV station stops airing programs associated with pornography, especially during periods when many children are watching TV,” he told the Post on Tuesday.

Donny said the warning was in line with Article 5 of the 2009 KPI Law on Behavioral Guidelines and Broadcasting Program Standards. 

Article 10 stipulates that broadcasting institutions must pay attention and protect the interests of children, teenagers and women.

The “Jupe Paling Suka” song is also against the broadcasting behavior guidelines, which stipulates that broadcasting institutions must respect civil norms and morality prevailing in society, he said.

The song, featured in the soundtrack for Jupe’s Pocong Minta Kawin (Ghost Asks for Marriage) film, would have a negative impact if watched by children “due to the erotic voice and intonation that suggested sexual intercourse”, he said.

The head of the Indonesian Ulema Council’s (MUI) East Java chapter, KH Abdussomad Bukhori, said the KPI should be firm in implementing the broadcasting act. 

The MUI has urged the KPI to monitor pornography on TV and impose firm sanctions against station owners who continue to air such programs.

“Don’t ask clerics about pornography because we are certainly against that. There are rules prohibiting it, but none of the authorities are brave enough to implement the rules firmly,” Abdussomad told the Post.

2012; Your Style Revolutions


Tahun 2011 telah berlalu, memberikan banyak pengalaman dan pelajaran berharga untuk kita. Bicara soal style memang selalu menarik, tidak pernah habis untuk di bahas. Setiap pria yang mulai menyadari pentingnya penampilan, mencari dan mencoba bermacam style untuk mereka. Khusus untuk pergantian tahun seperti saat ini, bahkan orang-orang yang telah lama bergelut di dunia fashion mulai ramai membicarakan seperti apa trend style di tahun 2012?

Tidak sedikit pula yang bertanya mengenai style yang cocok, atau menanyakan trend style saat ini. Lalu style seperti apakah yang cocok untuk Anda?

Style adalah sesuatu yang sangat personal. Tidak seorang pun yang bisa memberikan saran kepada Anda mengenai style yang cocok untuk Anda, bahkan seorang expert di bidang fashion sekalipun!

Ya, untuk mendapatkan style yang cocok untuk kita di butuhkan proses yang cukup lama. Anda mungkin bisa mengambil jalan pintas dengan mencontoh style dari majalah-majalah pria, atau mencari menggunakan Google mengenai trend style saat ini. Tetapi tetap saja, jika style Anda tidak sesuai dengan diri dan kepribadian Anda, pada akhirnya Anda menjadi inkonsisten dan menjadi tidak nyaman.

Don’t you know that style it’s not about what you wear, it’s all about how to wear!

Apa yang di sebut fashion trend, belum tentu trendy pada tubuh Anda. Karena orang-orang di Paris dan Milan mengenakan pakaian berwarna ungu, bukan berarti Anda juga harus mengenakannya. Jangan juga membeli pakaian karena terpaku pada brand dan harga. Apa yang terlihat mahal, belum tentu cocok di tubuh Anda.
Berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda terapkan dalam meresolusi dan menemukan style yang cocok untuk Anda:

1. Kenali Diri Anda


Yang paling pertama dan utama dalam mencari atau menentukan style yang cocok untuk Anda adalah dengan mengetahui siapa diri Anda. Cobalah untuk introspeksi untuk mengenali siapa dan bagaimana sesungguhnya diri Anda.
Karena seharusnya penampilan Anda mencerminkan kepribadian Anda, bukan penampilan yang menunjukkan karakter palsu dari Anda.

2. Tentukan Tujuan Anda



Sama seperti aspek lain dalam hidup Anda, Anda juga perlu menentukan tujuan atau goal Anda dalam berpenampilan. Tanyakan kepada diri Anda, mengapa Anda harus berpenampilan menarik?
Ketahui tujuan Anda dengan jelas dan kuat, bukan sekedar hasil akhir yang terbayang menyenangkan. Seberapa kuat tujuan Anda akan menentukan komitmen Anda.

3. Ketahui Target Anda

Tak bisa di pungkiri bahwa kita berpenampilan menarik tujuannya adalah untuk orang lain. Maksud saya, jika Anda terdampar di pulau terpencil tak berpenghuni, hanya Anda seorang diri, apakah Anda masih mempedulikan style Anda?
Untuk itulah langkah selanjutnya dalam menentukan style yang cocok, Anda harus mengetahui target Anda. Apakah Anda ingin mendapatkan wanita cantik yang berpenampilan simpel nan stylish atau wanita cantik dan berkelas?
Jika Anda adalah seorang karyawan, tentu target Anda adalah rekan-rekan dan atasan Anda agar mendapat respek dari mereka. Atau jika Anda seorang pebisnis, tentu target Anda adalah klien atau mitra Anda.

4. Trial and Error


Untuk menjadi seorang master of style tidak mungkin Anda dapatkan hanya dalam waktu semalam. Di perlukan proses yang lama berupa trial and error. Anda mungkin akan mengalami ejekan dari teman-teman atau pandangan aneh dari orang lain dalam menemukan style yang cocok. Tapi jika tujuan Anda begitu kuat, kerikil-kerikil kecil seperti ini bukanlah halangan berarti.

Hentikan membaca artikel ini, mulailah action sekarang juga!


fashionpria.com

Sabtu, 17 April 2010

Ruang Lingkup Ahlussunnah wal Jama’ah

Ruang Lingkup Ahlussunnah wal Jama’ah

Sebagaimana halnya Khawarij, Mu’tazilah, dan Syi’ah, Ahlusunnah wal Jama’ah merupakan salah satu aliran atau paham teologi yang ikut mewarnai sejarah perkembangan agama Islam. Ia datang di tengah-tengah dinamika kehidupan umat untuk ikut ambil bagian dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi, khususnya yang berkenaan dengan permasalahan ikhtilâfiyyah dalam akidah dan keyakinan.(5
Kalau pada awalnya Ahlussunnah wal Jama’ah muncul sebagai reaksi terhadap Syiah, ia dalam perkembangannya juga merespon Mu’tazilah. Bahkan kemunculan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai aliran terjadi di masa Mu’tazilah mencapai kejayaannya.

Sebagaimana diketahui, Mu’tazilah mencapai puncak kejayaannya pada saat Daulah Abasiyah berada di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq (813 M – 847 M). Kejayaan ini diawali dengan dijadikannya Mu’tazilah oleh Khalifah al-Ma’mun sebagai mazhab resmi yang dianut negara. Agaknya, pada masa itulah usaha penyebaran ajaran-ajaran Mu’tazilah yang dijalankan oleh 3 ribu pengikut Wasil bin ‘Atha semenjak tahun 718 M mulai menemukan hasilnya hingga Mu’tazilah memperoleh pengaruh dalam masyarakat Islam
Paham Mu’tazilah mengajarkan bahwa al-Quran tidak bersifat qadîm, tetapi baru (hadîts) dan diciptakan (makhlûq). Dalam pandangan mereka, meng-qadîm-kan al-Quran berarti meyakini adanya sesuatu yang qadîm selain Tuhan, dan itu sama saja dengan menduakan Tuhan. Menduakan Tuhan adalah perbuatan syirik, dan syirik merupakan dosa terbesar yang tidak akan diampuni Tuhan.

Al-Ma’mun sebagai khalifah menetapkan bahwa orang syirik tidak dapat menempati posisi penting dalam pemerintahan. Oleh karenanya, dia kemudian menginstruksikan kepada Gubernurnya untuk menjadikan Mu’tazilah sebagai Paham yang harus dianut oleh para pemuka masyarakat melalui sebuah kebijakan yang dikenal dengan mihnah (inquisition). Kebijakan ini diaplikasikan dengan menerapkan ‘fit and proper test’ yang bersifat subyektif, guna melihat apakah seseorang, yang akan diangkat sebagai pejabat, berpaham Mu’tazilah atau tidak. (6
Ahmad ibn Hanbal telah tampil sebagai orang yang menolak paham Mu’tazilah, dan mengembalikan ajaran Islam pada apa yang terkandung dalam sunnah sehingga dia kemudian dikenal sebagai imam Ahlussunnah.(7 Meskipun harus berhadapan dengan tiga penguasa Daulah Abasiyah secara berturut-turut, Ibn Hanbal tetap mempertahankan keyakinannya, sehingga ia menjadi orang yang berpengaruh dan mendapat pengikut yang terus bertambah.

Kenyataan ini membuat Khalifah al-Mu’tashim dan al-Watsiq tidak berani menjatuhkan hukuman mati kepada Ahmad Ibnu Hanbal, karena hal itu dalam pandangan mereka akan sangat berpotensi bagi timbulnya kekacauan. Di masa kekhalifahan al-Mutawakkil, putra al-Mu’tashim, pengaruh ibn Hanbal yang berpegang teguh pada sunnah dan tradisi terus menguat, sementara pengaruh Mu’tazilah menurun di tengah-tengah masyarakat. Pada Puncaknya, al-Mutawakkil membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai mazhab resmi negara (848 M), dan berakhirlah riwayat mihnah dalam perjalanan sejarah Daulah Abbasiyah.
Dengan dasar kenyataan sejarah itulah Tasy Kubra Zadah menyatakan bahwa aliran Ahlussunnah wal Jama’ah telah muncul atas keberanian dan usaha Abu al-Hasan al-Asy’ari untuk membentuk aliran teologi baru yang kemudian dikenal dengan namanya sendiri, setelah menjadi pengikut aliran Mu’tazilah selama 40 tahun. (8 Dari sinilah term Ahlussunnah wal Jama’ah yang dibawa oleh Ibn Hanbal menjadi identik dengan Asy’ariyah dan Maturidiyah, mengingat Abu al-Hasan al-Asy’ari yang menyandarkan teologi barunya pada ajaran yang dibawa oleh Ibn Hanbal, tidak merumuskan ajaran Ibnu Hanbal secara lebih sistematis.

Dijelaskan bahwa pada saat berdiri di depan publik untuk memproklamirkan teologi barunya, Abu al-Hasan al-Asy’ari mengatakan bahwa sandaran otoritas pendapat dan keyakinan yang dianutnya adalah berpegang teguh pada al-Qur’an, sunnah Rasulullah Saw., atsar sahabat, perkataan tabi’in, pembela hadits, dan terhadap apa yang dikatakan oleh Ahmad ibn Hanbal. Akan tetapi, meskipun al-Asy'ari mendasarkan teologinya pada Ahmad ibn Hanbal (9, ia dalam bidang fikih tetap berpegang pada mazhab Syafi'i. (10
Ibn Taimiyah dalam Muwafaqât Shahîh al-Manqûl li al-Sharîh al-Ma’qûl menjelaskan bahwa ketika keluar dari mazhab Mu’tazilah, al-Asy’ari menempuh cara Ibn Kullab. Dia membela sunnah dan hadis, serta menyandarkan pendapat-pendapatnya pada Ahmad ibn Hanbal. Semua ini diungkapkan secara tegas dalam buku-buku karanganya, seperti al-Ibânah, al-Mujâz, dan al-Maqâlât. Lebih dari itu, al-Asy’ari juga bergaul dengan para pembela sunnah dan para teolog pengikut mazhab Hanbali, seperti ibn ‘Aqil dan Abu al-Faraj al-Jawzi. Dari merekalah al-Asy’ari belajar dan mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Ahmad ibn Hanbal.(11
Kalau apa yang diajarkan oleh ibnu Hanbal itu berpegang teguh terhadap sunnah dan tradisi, Mu’tazilah tidak mau berpegang teguh kepada sunnah dan tradisi itu. Sikap Mu’tazilah ini bukan karena mereka tidak percaya, tetapi lebih disebabkan oleh keraguan terhadap keaslian sunnah dan tradisi tersebut. Sejalan dengan itu, ajaran-ajaran yang dibawanya juga lebih bersifat rasional dan filosofis, sehingga paham Mu’tazilah tidak bisa diikuti oleh masyarakat awam. Paham Mu’tazilah, karenanya, tetap menjadi paham minoritas, meski ditopang oleh kekuasaan, sementara pada sisi lain, Ahlussunnah wal jama’ah memperoleh respon yang sangat positif dari mayoritas khalayak. Kedua faktor inilah yang sering disebut sebagai awal munculnya istilah Ahlussunnah wal Jama’ah, yaitu, golongan yang berpegang pada sunnah dan merupakan golongan mayoritas, sebagai lawan bagi golongan Mu’tazilah yang bersifat minoritas dan tidak berpegang teguh terhadap sunnah.
Secara substantif, Ahlussunnah wal Jama’ah itu meliputi tiga aspek Islam, yakni aspek akidah, fikih dan akhlak. Meskipun diskursus para ulama sering hanya membicarakan aspek akidah dan syari’ah (fiqh), hal itu bukan berarti tidak ada aspek akhlak. Menurut pandangan ini, pengalaman (practice) dari dua aspek (yang disebut pertama) itu mengandung aspek akhlak atau tashawuf (tashawwuf).
Seperti disepakati oleh para ulama penulis, aspek yang paling krusial di dalam paham Ahlussunnah wal Jama’ah adalah aspek akidah. Aspek ini krusial, karena pada saat Mu’tazilah dijadikan sebagai paham keagamaan resmi pemerintah oleh penguasa Abbasiyah, di mana telah terjadi kasus mihnah (inquisition) yang cukup menimbulkan keresahan umat Islam. Imam al-Asy’ari saat itu telah tampil untuk mengoreksi kebijakan pemerintah tadi dan sekaligus mengkonter teologi Mu’tazilah, yang dalam beberapa hal dianggap bid’ah atau menyimpang. Pemikiran-pemikiran teologi Islam yang disampaikan Imam al-Asy’ari ternyata diterima secara positif oleh masyarakat Islam, sehingga kemudian terbentuk kelompok Asy’ariyah (pengikut al-Asy’ari). Cikal bakal ini akhirnya terinstitusi dalam bentuk mazhab al-Asy’ari.
Aspek kedua dalam paham Ahlussunnah wal Jama’ah adalah syari’ah atau fikih, yakni paham keagamaan yang berhubungan dengan ibadah dan mu’âmalah. Yang dimaksud dengan ibadah adalah tuntutan formal yang berhubungan dengan tata cara seorang hamba berhadapan dengan Tuhan, seperti shalat, zakat, haji, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan mu’âmalah adalah bentuk ibadah yang bersifat sosial, menyangkut hubungan manusia dengan sesama manusia secara horisontal, misalnya dalam hal jual beli, pidana perdata, sosial politik, dan sebagainya. Yang pertama disebut habl min Allâh (hubungan manusia dengan Allah), dan yang kedua disebut habl min al-nâs (hubungan manusia dengan manusia).
Para ulama telah sepakat bahwa aspek syari’ah Ahlussunnah wal Jama’ah ini bersumber dari empat mazhab besar dalam Islam, yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Menurut mereka, Ahlussunnah wal Jama’ah bersumber pada empat mazhab besar ini karena paham akidah mereka sejalan dengan paham akidah mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah.

Imam Asy’ari sendiri sebagai pelopor Ahlussunnah wal Jama’ah adalah penganut mazhab Imam Syafi’i, sementara al-Maturidi adalah penganut mazhab Imam Hanafi di bidang syari’ah atau fikih. Ahlussunnah wal Jama’ah juga bersumber pada Imam Maliki karena ia adalah pelopor pembanding ahl al-ra’y (orang yang “mendewakan” akal) dari kalangan ulama Irak, di mana manhaj berpikirnya adalah taqdîm al-nashsh ala al-‘aql (mendahulukan apa yang tertulis dari Qur’an dari pada akal). Demikian juga mazhab Hanbali dijadikan rujukan karena Imam Hanbali banyak dijelaskan oleh literatur Islam sebagai ulama yang dalam paham akidahnya secara garis besar, terutama dalam masalah-masalah sentral yang menjadi kecenderungan polemik di antara ulama kalam, sejalan dengan paham ketiga ulama pendiri mazhab lainnya.
Aspek ketiga dari paham keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah adalah akhlak atau tashawuf, yang dalam banyak hal difokuskan kepada wacana akhlak Imam al-Ghazali, Yazid al-Bustami dan Junaid al-Baghdadi, serta ulama-ulama sufi yang sepaham. Aspek ketiga ini, dalam diskursus Islam dinilai penting, karena mencerminkan faktor ihsân dalam diri seseorang. Iman menggambarkan keyakinan, sedangkan Islam menggambarkan syari’ah, dan ihsân menggambarkan kesempurnaan Iman dan Islam dalam diri seseorang.

Iman itu ibarat akar, Islam ibarat pohon dan ihsân ibarat buah yang dihasilkan oleh sebuah pohon. Artinya, manusia sempurna adalah manusia yang di samping bermanfaat untuk dirinya, karena dia sendiri kuat, juga memberi manfaat kepada yang lain (ini sering disebut dengan three principles of human life). Kalau manusia memiliki keyakinan atau kepercayaan tetapi tidak menjalankan syari’at fikih, maka hal itu ibarat ada akar tetapi tidak ada pohonnya, artinya tidak ada gunanya. Tetapi pohon yang berakar dan rindang tidak akan menghasilkan buah jika kurang berarti atau kurang bermanfaat bagi kehidupan (bukan sama sekali tidak ada manfaatnya), atau dengan kata lain, kurang sempurna. Jadi, aspek ini juga terkait dengan aspek yang kedua, sehingga keberadaannya sama pentingnya dengan keberadaan aspek yang pertama dan kedua untuk membentuk manusia menjadi insân kâmil atau the perfect man.
footnone :
5) Akidah dan keyakinan bukanlah obyek permasalahan pertama yang didalamnya terjadi perbedan pandangan di kalangan umat Islam yang pada akhirnya melahirkan beragama aliran teologi dan ilmu kalam. Sebelumnya sudah sering terjadi perbedaan pandangan di kalangan umat Islam, mulai dari permasalahan imamah, zakat, riddah, dan lain sebagainya. Bahkan, kematian Nabi dan di mana harus dimakamkan pun menjadi bahan perdebatan di kalangan sahabat. Lihat ‘Abd al-Qahir ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi, al-Farq Bayn al-Firâq, h. 12 – 20, (Libanon: Dar al-Fikr)

6) Dalam Tarîkh al-Tabariy dijelaskan bahwa mereka yang harus menjalani ujian adalah para hakim (al-Qudldlât), para pemuka agama dan tokoh masyarakat, ahli fikih (fuqahâ’), dan ahli hadis, termasuk di dalamnya ibn Hanbal.

7) Perdebatan antara Imam Ahmad ibn Hanbal dan Ishaq Ibn Ibrahim (Gubernur Irak) tentang al-Quran dan sifat Tuhan dapat dilihat dalam Tarîkh al-Tabariy Diceritakan bahwa setidaknya ada 30 orang yang diuji bersama dengan Ibn Hanbal dan dari semua itu, hanya ibn Hanbal dan Muhammad ibn Nuh saja yang berkeras dan tidak mau merubah keyakinannya.

8) Lihat Harun Nasution, Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan, h. 65, cet. I, Ed. II, (Jakarta: Penerrbit Universitas Indonesia, 2002). Keluarnya al-Asy’ari dari Mu’tazilah, telah memunculkan penafsiran yang sangat beragam. Hal ini disebabkan dia tidak pernah menjelaskan alasan yang pasti tentang keputusannya untuk keluar dan membentuk aliran baru tersebut. Dalam pernyataan terakhir yang disampaikan pasca merenung selama 15 hari untuk memproklamirkan keyakinan barunya, dia hanya menegaskan bahwa atas petunjuk Allah yang diperolehnya selama mengasingkan diri di dalam rumahnya, dia memutuskan meninggalkan dan bahkan melemparkan keyakinan lama, sebagaimana melemparkan baju, untuk kemudian menganut keyakinan baru yang dia tulis dalam buku-bukunya.
9) Lihat, Abu al-Hasan Isma’il al-Asy’ari, Maqâlât al-Islâmiyyîn wa Ikhtilâf al-Mushallîn, dialihbahasakan menjadi, Prinsip-prinsip Dasar Aliran Theologi Islam (Buku I), oleh Drs. H.A. Nasir Yusuf dan Drs. Karsidi Diningrat, hlm. 46 – 47, (Bandung: Pustaka Setia, 1998)

10) Pemikiran KH. M. Tholhah Hasan dalam Seminar Publikasi PBNU tanggal 30 Desember 2003.

11) Abu al-Hasan Isma’il al-Asy’ari, op. cit., hlm. 48

Contoh Makalah Aswaja

Aswaja

I Pengantar

Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah ( Aswaja ) sebagai bagaian dari kajian keislaman –merupakan upaya yang mendudukkan aswaja secara proporsional, bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran atau golongan tertentu yang mungkin secara subyektif kita anggap baik karena rumusan dan konsep pemikiran teologis yang diformulasikan oleh suatu aliran, sangat dipengaruhi oleh suatu problem teologis pada masanya dan mempunyai sifat dan aktualisasinya tertentu.

Pemaksaan suatu aliran tertentu yang pernah berkembang di era tertentu untuk kita yakini, sama halnya dengan aliran teologi sebagai dogma dan sekaligus mensucikan pemikiran keagamaan tertentu. Padahal aliran teologi merupakan fenomena sejarah yang senantiasa membutuhkan interpretasi sesuai dengan konteks zaman yang melingkupinya. Jika hal ini mampu kita antisipasi berarti kita telah memelihara kemerdekaan (hurriyah); yakni kebebasan berfikir (hurriyah al-ra’yi), kebebasan berusaha dan berinisiatif (hurriyah al-irodah) serta kebebasan berkiprah dan beraktivitas (hurriyah al-harokah) (Said Aqil Siradj : 1998).

Berangkat dari pemikiran diatas maka persoalan yang muncul kemudian adalah bagaimana meletakkan aswaja sebagai metologi berfikir (manhaj al-fikr)?.Jika mengharuskan untuk mengadakan sebuah pembaharuan makna atau inpretasi, maka pembaharuan yang bagaimana bisa relevan dengan kepentingan Islam dan Umatnya khususnya dalam intern PMII. Apakah aswaja yang telah dikembangkan selama ini didalam tubuh PMII sudah masuk dalam kategori proporsional? Inilah yang mungkin akan menjadi tulisan dalam tulisan ini.

II Aswaja Dan Perkembangannya

Melacak akar-akar sejarah munculnya istilah ahlul sunnah waljamaah, secara etimologis bahwa aswaja sudah terkenal sejak Rosulullah SAW. Sebagai konfigurasi sejarah, maka secara umum aswaja mengalami perkembangan dengan tiga tahab secara evolutif. Pertama, tahab embrional pemikiran sunni dalam bidang teologi bersifat eklektik, yakni memilih salah satu pendapat yang dianggap paling benar. Pada tahab ini masih merupakan tahab konsolidasi, tokoh yang menjadi penggerak adalah Hasan al-Basri (w.110 H/728 M). Kedua, proses konsolidasi awal mencapai puncaknya setelah Imam al-Syafi’I (w.205 H/820 M) berhasil menetapkan hadist sebagai sumber hukum kedua setelah Al- qur’an dalam konstruksi pemikiran hukum Islam. Pada tahab ini, kajian dan diskusi tentang teologi sunni berlangsung secara intensif. Ketiga, merupakan kristalisasi teologi sunni disatu pihak menolak rasionalisme dogma, di lain pihak menerima metode rasional dalam memahami agama. Proses kristalisasi ini dilakukan oleh tiga tokoh dan sekaligus ditempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan, yakni; Abu Hasan al-Asy’ari (w.324 H/935 M)di Mesopotamia, Abu Mansur al-Maturidi (w.331 H/944 M) di Samarkand, Ahmad Bin Ja’far al-Thahawi (w.331 H/944 M) di Mesir. ( Nourouzzaman Shidiqi : 1996). Pada zaman kristalisasi inilah Abu Hasan al-Asy’ari meresmikan sebagai aliran pemikiran yang dikembangkan. Dan munculnya aswaja ini sebagai reaksi teologis-politis terhadap Mu’tazilah, Khowarij dan Syi’ah yang dipandang oleh As’ari sudah keluar dari paham yang semestinya.

Lain dengan para Ulama’ NU di Indonesia menganggap aswaja sebagai upaya pembakuan atau menginstitusikan prinsip-prinsip tawasuth (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang) serta ta’addul (Keadilan). Perkembangan selanjutnya oleh Said Aqil Shiroj dalam mereformulasikan aswaja sebagai metode berfikir (manhaj al-fikr) keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berdasarkan atas dasar modernisasi, menjaga keseimbangan dan toleransi, tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memberikan warna baru terhadap cetak biru (blue print) yang sudah mulai tidak menarik lagi dihadapan dunia modern. Dari sinilah PMII menggunakan aswaja sebagai manhaj al fikr dalam landasan gerak.

III Aswaja Sebagai Manhaj al-fikr

Dalam wacana metode pemikiran, para teolog klasik dapat dikategorikan menjadi empat kelompok. Pertama, kelompok rasioalis yang diwakili oleh aliran Mu’tazilah yang pelapori oleh Washil bin Atho’, kedua, kelompok tekstualis dihidupkan dan dipertahankan oleh aliran salaf yang munculkan oleh Ibnu Taimiyah serta generasi berikutnya. Ketiga, kelompok yang pemikirannya terfokuskan pada politik dan sejarah kaum muslimin yang diwakili oleh syi’ah dan Khawarij, dan keempat, pemikiran sintetis yang dikembangkan oleh Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi.

Didalam PMII Aswaja dijadikan Manhajul Fikri artinya Aswaja bukan dijadikan tujuan dalam beragama melainkan dijadikan metode dalam berfikir untuk mencapai kebenaran agama. Walaupun banyak tokoh yang telah mencoba mendekontruksi isi atau konsep yang ada dalam aswaja tapi sampai sekarang Aswaja dalam sebuah metode berfikir ada banyak relevasinya dalam kehidupan beragama, sehingga PMII lebih terbuka dalam mebuka ruang dialektika dengan siapapun dan kelompok apapun.

Rumusan aswaja sebagai manhajul fikri pertama kali diintrodusir oleh Kang Said (panggilan akrab Said Aqil Siradj) dalam sebuah forum di Jakarta pada tahun 1991. Upaya dekonstruktif ini selayaknya dihargai sebagai produk intelektual walaupun juga tidak bijaksana jika diterima begitu saja tanpa ada discourse panjang dan mendalam dari pada dipandang sebagai upaya ‘merusak’ norma atau tatanan teologis yang telah ada. Dalam perkembangannya, akhirnya rumusan baru Kang Said diratifikasi menjadi konsep dasar aswaja di PMII. Prinsip dasar dari aswaja sebagai manhajul fikri meliputi ; tawasuth (mederat), tasamuh (toleran) dan tawazzun (seimbang). Aktualisasi dari prinsip yang pertama adalah bahwa selain wahyu, kita juga memposisikan akal pada posisi yang terhormat (namun tidak terjebak pada mengagung-agungkan akal) karena martabat kemanusiaan manusia terletak pada apakah dan bagaimana dia menggunakan akal yang dimilikinya. Artinya ada sebuah keterkaitan dan keseimbangan yang mendalam antara wahyu dan akal sehingga kita tidak terjebak pada paham skripturalisme (tekstual) dan rasionalisme. Selanjutnya, dalam konteks hubungan sosial, seorang kader PMII harus bisa menghargai dan mentoleransi perbedaan yang ada bahkan sampai pada keyakinan sekalipun. Tidak dibenarkan kita memaksakan keyakinan apalagi hanya sekedar pendapat kita pada orang lain, yang diperbolehkan hanyalah sebatas menyampaikan dan mendialiektikakakan keyakinan atau pendapat tersebut, dan ending-nya diserahkan pada otoritas individu dan hidayah dari Tuhan. Ini adalah menifestasi dari prinsip tasamuh dari aswaja sebagai manhajul fikri. Dan yang terakhir adalah tawazzun (seimbang). Penjabaran dari prinsip tawazzun meliputi berbagai aspek kehidupan, baik itu perilaku individu yang bersifat sosial maupun dalam konteks politik sekalipun. Ini penting karena seringkali tindakan atau sikap yang diambil dalam berinteraksi di dunia ini disusupi oleh kepentingan sesaat dan keberpihakan yang tidak seharusnya. walaupun dalam kenyataannya sangatlah sulit atau bahkan mungkin tidak ada orang yang tidak memiliki keberpihakan sama sekali, minimal keberpihakan terhadap netralitas. Artinya, dengan bahasa yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa memandang dan menposisikan segala sesuatu pada proporsinya masing-masing adalah sikap yang paling bijak, dan bukan tidak mengambil sikap karena itu adalah manifestasi dari sikap pengecut dan oportunis.

IV Penutup

Ini bukanlah sesuatu yang saklek yang tidak bisa direvisi atau bahkan diganti sama sekali dengan yang baru, sebab ini adalah ‘hanya’ sebuah produk intelektual yang sangat dipengaruhi ruang dan waktu dan untuk menghindari pensucian pemikiran yang pada akhirnya akan berdampak pada kejumudan dan stagnasi dalam berpikir. Sangat terbuka dan kemungkinan untuk mendialektikakan kembali dan kemudian merumuskan kembali menjadi rumusan yang kontekstual. Karena itu, yakinlah apa yang anda percayai saat ini adalah benar dan yang lain itu salah, tapi jangan tutup kemungkinan bahwa semuanya itu bisa berbalik seratus delapan puluh derajat.

Tugas Kuliah, Numpang Share Ajah, Biar Bagi2 Ilmu

Salamin-Dikalangan anak muda NU, terutama yang tergabung dalam wadah organisasi kemahasiswaan PMII, diawal tahun 1990-an mulai ramai membicarakan “Aswaja”.

Pada mulanya perbincangan baru seputar pertanyaan, mengapa aswaja menghambat perkembangan intelektual masyarakat ? diskusi terhadap doktrin ini lalu sampai kesimpulan, bahwa kemandegan berfikir ini karena kita mengadopsi mentah-mentah bahwa aswaja secara “Qod’I” (kemasan praktis pemikiran aswaja). Lalu dicobalah membongkar sisi metodologi berfikirnya (Manhaj Al-fikr): Yakni cara berfikir yang menganggap prinsip Tawasuth (moderat), Tawazun (keseimbangan), dan Ta’adul (keadilan). Setidaknya prinsip ini bisa mengantarkan pada sikap keberagaman yang non tatharruf atau ekstrim kiri dan kanan.



LATAR KULTURAL DAN POLITIK KELAHIRAN ASWAJA
Selama ini yang kita ketahui tentang ahlusunnah waljama’ah adalah madzhab yang dalam masalah aqidah mengikuti imam Abu Musa Al Asyari dan Abu Mansur Al Maturidi. Dalam praktek peribadatan mengikuti salah satu madzhab empat, dan dalam bertawasuf mengikuti imam Abu Qosim Al Junandi dan imam Abu khamid Al Gozali.

Kalau kita mempelajari Ahlussunnah dengan sebenarnya, batasan seperti itu nampak begitu simple dan sederhana, karena pengertian tersebut menciptakan definisi yang sangat eksklusif Untuk mengkaji secara mendalam, terlebih dahulu harus kita tekankan bahwa Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) sesungguhnya bukanlah madzhab, Aswaja hanyalah sebuah manhaj Al fikr (cara berpikir) tertentu yang digariskan oleh para sahabat dan muridnya, yaitu generasi tabi’in yang memiliki intelektualitas tinggi dan relatif netral dalam mensikapi situasi politik ketika itu. Meski demikian, bukan berarti dalam kedudukannya sebagai Manhaj Al fikr sekalipun merupakan produk yang bersih dari realitas sosio-kultural maupun sosio politik yang melingkupinya.

Ahlusunnah tidak bisa terlepas dari kultur bangsa arab “tempat islam tumbuh dan berkembang untuk pertama kali”. Seperti kita ketahui bersama, bangsa arab adalah bangsa yang terdiri dari beraneka ragam suku dan kabilah yang biasa hidup secara peduli. Dari watak alami dan karakteristik daerahnya yang sebagai besar padang pasir watak orang arab sulit bersatu dan bahkan ada titik kesatuan diantara mereka merupakan sesuatu yang hampir mustahil. Di tengah-tengah kondisi bangsa yang demikian rapuh yang sangat labil persatuan dan kebersamaannya, Rosulullah diutus membawa Islam dengan misi yang sangat menekankan ukhuwah, persamaan dan persaudaraan manusia atas dasar idiologi atau iman. Selama 23 tahun dengan segala kehebatan, kharisma, dan kebesaran yang dimilikinya, Rosulullah mampu meredam kefanatikan qobilah menjadi kefanatikan agama (ghiroh islamiyah). Jelasnya Rosulullah mampu membangun persatuan, persaudaraan, ukhuwah dan kesejajaran martabat dan fitrah manusia. Namun dasar watak alami bangsa arab yang sulit bersatu, setelah Rosulullah meninggal dan bahkan jasad beliau belum dikebumikan benih-benih perpecahan, gendrang perselisihan sudah mulai terdengar, terutama dalam menyikapi siapa figure yang tepat mengganti Rosulullah ( peristiwa bani saqifah ).

Perselisihan internal dikalangan umat Islam ini, secara sistematis dan periodik terus berlanjut pasca meninggalnya Rosulullah, yang akhirnya komoditi perpecahan menjadi sangat beragam. Ada karena masalah politik dikemas rapi seakan-akan masalah agama, dan aja juga masalah-masalah agama dijadikan legitimasi untuk mencapai ambisi politik dan kekuasaan.

Unsur-unsur perpecahan dikalangan internal umat Islam merupakan potensi yang sewaktu-waktu bisa meledak sebagai bom waktu, bukti ini semakin nampak dengan diangkatnya Usman Bin Affan sebagai kholifah pengganti Umar bin Khottob oleh tim formatur yang dibentuk oleh Umar menjelang meninggalnya beliau, yang mau tidak mau menyisahkan kekecewaan politik bagi pendukung Ali waktu itu. Fakta kelabu ini ternyata menjadi tragedy besar dalam sejarah umat Islam yaitu dengan dibunuhnya Kholifah Usman oleh putra Abu Bakar yang bernama Muhammad bin Abu Bakar. Peristiwa ini yang menjadi latar belakang terjadinya perang Jamal antara Siti Aisyah dan Sayidina Ali. Dan berikut keadaan semakin kacau balau dan situasi politik semakin tidak menentu, sehingga dikalangan internal umat Islam mulai terpecah menjadi firqoh-firqoh seperti Qodariyah, Jabbariyah Mu’tazilah dan kemudian lahirlah Ahlus sunah. Melihat rentetan latar belakang sejarah yang mengiringi lahirnya Aswaja, dapat ditarik garis kesimpulan bahwa lahirnya Aswaja tidak bisa terlepas dari latar belakang politik.



ASWAJA SEBAGAI MANHAJ AL-FIKR
Melihat dari latar cultural dan politik sejarah kelahiran Aswaja, beserta ruang lingkup yang ada di dalamnya. Terminologi Aswaja yang sebagai mana kita pegangi selama ini, sehingga tidak jarang memunculkan paradigma jumud (mandeg), kaku, dan eksklusif atau bahkan menganggap sebagai sebuah madzhab dan idiologi yang Qod’i. Bagaimana mungkin dalam satu madzhab kok mengandung beberapa madzhab, dan bagaimana mungkin dalam satu idiologi ada doktrin yang kontradiktif antara doktrin imam satu dengan imam yang lain.

Salah satu karakter Aswaja adalah selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi, oleh karena itu Aswaja tidaklah jumud, tidak kaku, tidak eksklusif, dan juga tidak elitis, apa lagi ekstrim. Sebaliknya Aswaja bisa berkembang dan sekaligus dimungkinkan bisa mendobrak kemapanan yang sudah kondusif. Tentunya perubahan tersebut harus tetap mengacu pada paradigma dan prinsip al-sholih wa al-ahslah. Karena itu menurut saya implementasi dari qaidah al-muhafadhoh ala qodim al-sholih wa al-akhdzu bi al jadid alashlah. Adalah menyamakan langkah sesuai dengan kondisi yang berkembang pada masa kini dan masa yang akan datang. Yakni pemekaran relevansi implementatif pemikiran dan gerakan kongkrit ke dalam semua sector dan bidang kehidupan baik, aqidah, syariah, akhlaq, social budaya, ekonomi, politik, pendidikan dan lain sebagainya.

Walhasil, Aswaja itu sebenarnya bukanlah madzhab. Tetapi hanyalah manhaj al-fikr atau paham saja, yang di dalamnya masih memuat beberapa aliran dan madzhab. Ini berarti masih terbuka luas bagi kita wacana pemikiran Islam yang transformatif, kreatif, dan inovatif, sehingga dapat mengakomodir nuansa perkembangan kemajuan budaya manusia. Atau selalu up to date dan tanggap terhadap tantangan jaman. Nah dengan demikian akan terjadi kebekuan dan kefakuman besar-besaran diantara kita kalau doktrin-doktrin eksklusif yang ada dalam Aswaja seperti yang selama ini kita dengar dan kita pahami dicerna mentah-mentah sesuai dengan kemasan praktis pemikiran aswaja, tanpa mau membongkar sisi metodologi berfikirnya, yakni kerangka berpikir yang menganggap prinsip tawassuth (moderat), tawazun (keseimbangan), ta’adul ( keadilan) dapat mengantarkan pada sikap yang mau dan mampu menghargai keberagaman yang non ekstrimitas (tatharruf) kiri ataupun kanan.

NILAI-NILAI ASWAJA YANG TOLERAN DAN ANTI EKSTREM?
Dalam sejarah tokoh pemikir Islam, kehadiran Abu Hasan al-Asya’ari dan Abu Manshur al-Maturidi, melalui pemikiran-pemikiran teologis kedua orang ini berhasil mempengaruhi pikiran banyak orang dan mengubah kecenderungan dari berpikir rasionalis ala Mu’tazilah kepada berpikir tradisionalis dengan berpegang pada sunnah Nabi. Asawaja dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya seperti tawassuth, tawazun tasamuh mampu tampil sebagai sebuah ajaran yang berkarakter lentur, moderat, dan fleksibel. Dari sikap yang lentur dan fleksibel tersebut barang kali yang bisa mengantarkan paham ini diterima oleh mayoritas umat Islam di Indonesia.

Senin, 09 Februari 2009

Konsumerisme, Tugas Lagi

Konsumerisme adalah sebuah ideologi
global baru. Berapa dan apapun harganya, mereka yg menganut ideologi ini pasti
akan membayarnya. Mungkin, sadar ga sadar ada diantara kalian yang menganut
ideologi baru ini. Well…hrs sayah aku secara fair…klo sayah “mungkin” ikut
ambil bagian dari ideologi baru itu, walaupun sayah belom “resmi” masuk ke
dalamnya. Tp tunggu sebentar…sebenernya apa sih konsumerisme itu???

Konsumerisme adalah paham atau
aliran atau ideologi dimana seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan
proses konsumsi atau pemakaian barang barang hasil produksi secara berlebihan
atau tidak sepantasnya secara sadar dan
berkelanjutan. Gampangnya sih klo kalian konsumtif dan menjadikan
ke-konsumtif-an kalian itu sebagai gaya hidup, maka kalian adalah penganut
paham konsumerisme. Dan gilanya…konsumerisme cenderung lbh mewabah di negara2
dunia ketiga a.k.a negara2 miskin(bukan berkembang yak???!!!).

Maklum, menurut teori konspirasi yg
sayah ciptakan, neo kolonialisme via liberalisasi global tlh menjadikan negara2
dunia ketiga sbagai negara2 pekerja. Liat aja gimana doktrin yg berlaku di
masyarakat kita skg seakan akan mengharuskan setiap manusia yg lahir di negara2
dunia ketiga untuk dicetak sbagai kelas pekerja atau class worker. Ini dia nih…kelas
pekerja ga punya kemampuan untuk mencipta atau to produce…makanya kelas
pekerja cmn ahli dlm satu hal: membeli atau mengonsumsi. Sehingga memang
masyarakat negara2 di dunia ketiga memang cenderung untuk lebih konsumtif
dibanding masyarakat di negara2 maju.

Contoh nyata deh…di US sana
tingkat penggunaan telepon selular masyarakatnya ga lebih dr 50% jumlah
penduduk. Di Indonesia…(gilanya) tingkat penggunaan telepon selular
masyarakatnya udah mencapai hampir 70%. Ga ush boong deh…pasti banyak diantara
kalian yg skg memiliki lbh dr satu ponsel. Temen2 sayah ajah skg rata2 memiliki
dua ponsel…yg satu GSM yg satu CDMA. Dan tahu gak sih lo??? Klo ternyata
ponsel2 di Indonesia varian teknologinya itu jauh lbh canggih daripada ponsel2
yg beredar di US sana. Org klo ada ponsel jenis baru dr sebuah vendor launching
di asia pasific…pasti pertama kali keluarnya di Indonesia…that’s a fact
though. Cerita aja nih yak…temen sayah di pertengahan taun 2001 yg lalu
kuliah di MSU di Michigan sana…dia bawa ponsel yg dia bli disini…ericsson
T61…dulu sih ponsel dgn layar berwarna pertama lah…dan ternyata sesampainya
di kampus, ponselnya dianggap ponsel plg
keren oleh temen2 kampusnya…karena ternyata ericsson T61…baru dijual di US
9 bulan kemudian. Mungkin jg ini alesan kenapa Film James Bond yg terbaru
“Casino Royale” pemutaran perdananya(diseluruh dunia),diputar di
Indonesia…alasennya ya karena Sony Ericsson seri “Casino Royale” launching
pertama kalinya ya di Indonesia jg(intermezzo yg ga penting…tp tidak
bermanfaat). Parah!!!

Selain
menurut teori konspirasi sayah yg keren bgt sekali pisan td…ada lg faktor
lain yg menjadikan konsumerisme cenderung lbh menggila di negara2 dunia ketiga:
Materialisme masayarakat di negara2 dunia ketiga emg lbh tinggi sih. Mungkin
lbh tinggi drpd negara dedengkot liberalismenya sendiri (baca lg teori ekonomi
liberal…apa itu persaingan bebas…dampak2nya…dan lain sbagainya…klo
sayah yg jelasin ga kontekstual jdnya). Entahlah…mungkin jg karena faktor nilai2
feodalisme yg msh kuat di negara2 dunia ketiga jg kali yah??? Jd ya…gaya
hidup konsumtif dijadikan alat untuk mendapatkan pengakuan secara
materialistik. Klo punya brg bgs apalagi mahal berasa plg ningrat gimana gituh.
Aneh memang…tp nyata dan menyedihkan.

Klo muncul pertanyaan: “So what
with consumerism gitu loch??? Klo gw anak org kaya trus gw mau bli clana jeans
harga 3juta lo mau protes apa???” atau “Klo satu episode sinetron gw dibayar
50juta trus gw bli tas tangan merk LV seharga 30juta lo mau apa???” Saya cmn
bisa bilang ya suka2 kalian lah…selama bapak2 kalian ga ngelarang. Asal jgn
yg muncul malah pertanyaan: “Klo bokap gwe PNS gajinya sebulan cmn 3juta trus
tiap bulan gw gonta ganti ponsel seharga 2juta tp kredit…lo mo bilang
apa???”. Sumpah man…ga asyik klo yg muncul pertanyaan kya gitu(yg ada malah
tangan sayah jd gatel pgn nyekek longgar leher si penanya). Sedkit ber-klise2
ria lah…kesenjangan di negara kita udah parah…tatanan nilai masyarakatnya
jg udh mulai kacau…klo ga kita2 jg, siapa lg yg bisa beresin. Klo di Papua aja
msh ada anak yg mati karena gizi buruk…sdgkan di Jakarta sana ada om2 bli
Jack D di sebuah klab malam seharga 2jt stengah sebotolnya…kalian mo bilang
apa coba???(jawaban: “Ya udh kirim aja Jack D nya buat anak2 yg kekurangan gizi
di Papua sana biar ga mati…gampang kan???” sama sekali bukan jawaban yg sayah
harapkan). Klo kalian msh merasa nyaman beli secangkir kopi frapucinno dgn
harga setara dgn rata2 pendapatan perkapita perhari negara kalian…mungkin ada
yg salah dgn kalian…mungkin…mungkin lbh bener klo kalian bagi2 sayah.

Kesadaran bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara kita kyanya emang udh saatnya dikoreksi deh…ama diri kita
sendiri(yup, hal ini keluar dr mulut sayah yg nilai PPKn STTB SMA-nya cmn dapet
nilai tujuh saja). Soalnya mnurut sayah kesadaran itu penting…klo ga sadar
jatohnya ya mabok… atau ga…gila(apa pula sih niy???). Btw, di kamus Inggris
– Indonesia yg sayah baca ketika menulis artikel ini…consume artinya memakan.
Mungkin arti lain konsumerisme adalah memakan semuanya termasuk memakan diri kita
sendiri. Btw jg, artikel ini readable ga sih??? Ah cuek is the best lah!!!